Penggiat robot tanah air tengah mengembangkan sebuah robot yang ditujukan untuk menjinakkan bom. Namun yang unik, robot ini dilengkapi senjata untuk melumpuhkan bom sebelum meledak.
senjata yang disematkan tersebut berbentuk shotgun dan menggunakan peluru kosong.
Robot ini sendiri merupakan hasil kerja sama dari berbagai institusi. Yakni Ristek yang bertugas sebagai koordinator, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) untuk membuat sistem kontrol dan artificial intelligent, Pindad untuk platform-nya serta LIPI untuk remote control dan digital signal processing-nya.
robot ini dihadirkan untuk mendampingi robot penjinak bom lainnya yang dimiliki Tim Gegana. Namun robot yang lain itu masih produksi luar negeri.
Selengkapnya...
To year 2010
Menuju Un 2009
Kamis, Februari 05, 2009
Indonesia Kembangkan Robot Penjinak Bom Bersenjata
Rabu, Februari 04, 2009
Kurang Tidur Dapat Berakibat Fatal
Tidak pernah ada perhitungan pasti mengenai berapa lama manusia tahan untuk tidak tidur. Namun yang jelas, kurang tidur dapat menimbulkan efek berbahaya bagi manusia.
Beberapa hewan mungkin bisa bertahan untuk tidak tidur dalam waktu yang cukup lama, bahkan hingga berbulan-bulan. Namun tidak demikian dengan manusia, karena saraf dan otak manusia cukup berpengaruh oleh aktivitas tidur.
Namun, Guinness Book of World Record pernah mencatat, pada Mei 2007, seorang warga negara Inggris bernama Tony Wright pernah memecahkan rekor 'melek' selama 266 jam, atau hampir 11 hari lamanya. Dia berusaha untuk tetap terbangun dengan cara memakan jus wortel, pisang, alpukat, nanas dan kacang.
Rekor ini mengalahkan catatan sebelumnya yang ditorehkan Randy Gardner pada tahun 1964 dengan kemampuan 'melek' selama 254 jam.
Para ilmuwan tentu saja tidak merekomendasikan kegiatan seperti ini berlangsung terhadap seluruh manusia di bumi. Pasalnya, dilansir melalui Live Science, Jumat (30/1/2009), para ilmuwan menemukan bahwa kurang tidur mampu menghilangkan konsentrasi pada diri manusia sehingga berakibat pada ketidakmampuan mengambil keputusan dalam bekerja.
Bahkan tidak tidur dalam waktu yang lama dapat berakibat pada munculnya halusinasi, kerusakan pada pandangan mata dan munculnya paranoid.
Selengkapnya...
Biofuel Lebih Berbahaya Dibandingkan Solar
Biofuel memang dapat diandalkan untuk menggantikan solar ataupun bensin sebagai bahan bakar alternatif. Tapi beberapa ilmuwan mengingatkan jika biofuel justru lebih berbahaya bagi kesehatan manusia dibandingkan bensin atau solar.
Seperti dilansir Guardian, Rabu (4/1/2009) ilmuwan telah melakukan penelitian untuk mengkalkulasi dampak kesehatan yang ditumbulkan dari berbagai macam jenis bahan bakar.
Studi yang dilakukan para peneliti Amerika Serikat, menunjukkan bioethanol yang terbuat dari jagung telah berdampak pada kesehatan dan juga� lingkungan sekitar dibandingkan bahan bakar umum, biofuel dari jagung sangat membahayakan kesehatan.
Selain itu, produksi bio ufel yang menggunakan bahan baku jagung yang masih tumbuh juga semakin melambungkan harga jagung untuk konsumsi. Sebab itu, para ilmuwan mengharapkan agar produksi biofuel di masa mendatang dapat menggunakan bahan-bahan sampah organic atau tanaman yang tidak digunakan sebagai bahan konsumsi makanan.
Dengan menggunakan sistem komputerisasi yang dikembangkan US Environmental Protection Agency, 'Biaya kesehatan dan lingkungan' yang harus dibayarkan penggunaan bensin sebesar 71 sen per gallon, sedangkan untuk biofuel yang terbuat dari jagung ?biaya? yang harus dikeluarkan sebesar 72 sen hingga USD1,45.
"Sejauh ini diskusi mengenai biofuel belum ada yang mengungkapkan berapa besar dampak terhadap kesehatan yang ditimbulkan dari biofuels," kata professor ekologi, evolusi University of Minnesota, David Tilman.
Biofuels dan juga bahan bakar lainnya, dapat meningkatkan beberapa penyakit, seperti gangguan pernapasan, atma, bronchitis bahkan penyakit jantung. "Dari sisi ekonomi biofuel memang mampu mengurangi biaya produksi, tapi public justru yang sangat dirugikan karena harus membayar semua dampak tersebut," kata peneliti lain, Stephen Polasky.
Selengkapnya...
Game 'Perangsang Otak' Tak Sehebat Janjinya
Game untuk Nintendo DS seperti Big Brain Academy, Brain Training dan Brain Age disebut mampu menjaga 'kesegaran' otak. Ternyata, game itu tak sehebat yang dijanjikan.
Hal ini diungkapkan melalui penelitian yang dilakukan Alain Lieury, profesor bidang psikologi kognitif dari Universitas Rennes di Prancis. Menurut Lieury kemampuan game itu sama atau kalah dari mengerjakan PR, membaca atau bermain Sudoku.
Game-game Nintendo DS dengan embel-embel 'otak' pada judulnya itu memang dijanjikan bisa membantu menjaga 'kesegaran' otak. Ini dilakukan melalui serangkaian puzzle di dalam game.
"Nintendo DS itu menarik secara teknolologi. Sebagai sebuah permainan juga baik-baik saja. Tapi klaim bahwa itu adalah sesuatu yang ilmiah adalah hal yang terlalu berani," ujar Lieury
Lieury melakukan penelitian terhadap 67 anak usia 10 tahun. Mereka dibagi dalam empat grup, dua grup bermain game 'otak' di Nintendo DS selama dua minggu, satu grup bermain puzzle konvensional dengan kertas dan pensil seperti Sudoku serta satu grup lagi sekolah seperti biasa.
Hasilnya, tak ada perbedaan signifikan dalam uji kognitif yang dilakukan sebelum dan sesudah eksperimen. Grup yang bermain Nintendo DS menunjukkan perbaikan 19 persen dalam matematika, namun ini setara dengan grup yang bermain teka-teki di atas kertas. Sedangkan yang sekolah? Perbaikannya 18 persen.
Selengkapnya...
Selasa, Februari 03, 2009
Main Game bisa membuat depresi
Main game atau menonton televisi terlalu lama bisa berujung pada depresi. Itulah hasil studi di Amerika Serikat yang dipublikasikan di jurnal Archives of General Psychiatry.
dimulai tahun 1995 periset meneliti pengaruh media elektronik pada sekitar 4000 remaja yang bebas depresi. Responden diketahui menghabiskan waktu 5,68 jam sehari dengan media elektronik seperti televisi dan video game.
Beberapa tahun kemudian, ketika para partisipan itu rata-rata berusia 21 tahun, 7,4 persen di antaranya (308 orang) mempunyai gejala depresi.
Menurut Brian Primack dari University Pittsburgh School of Medicine yang memimpin studi, mereka yang lebih banyak terekspos media elektronik lebih rentan terkena depresi. Kaum remaja pria juga lebih berisiko terkena depresi daripada para wanita.
Para periset menjelaskan, depresi kemungkinan timbul karena saking asyiknya mengakses media elektronik, para remaja jarang melakukan aktivitas sosial yang bisa mencegah depresi. Selain itu, konten yang ada di media elektronik juga bisa bikin depresi.
Para remaja juga mungkin jadi kurang tidur. Padahal pola tidur yang sehat dinilai penting dalam pengembangan emosi dan kognitif seseorang.
Selengkapnya...
Char RF gw
